Selasa, 15 Oktober 2013

Berkembang

Aaaah dulu aku merindu.. sekarang ingin rasanya menulis lagi tentangmu sahabatku… tapi kali ini temanya berkembang

Sudah lama ya kita berpisah ?
Ah, tidak selama tahun yang kuhabiskan bersamamu
Tapi, Rasanya itu lebih lama dibanding waktu yang kita habiskan

Hal yang paling kusuka adalah ketika kita berdiskusi..
Sekalinya berdiskusi, rasanya ada hal yang berharga yang bertambah pada diriku ini
Namun
Kesempatan berdiskusi dengan dirimu jarang sekali ya…

Diskusi terakhir kita tentang masa depan
Yang kita sadari adalah kita sama-sama beranjak dari benih pohon yang tumbuh dan sekarang mulai berkembang
Siap menghasilkan bunga dan buah
Dan pohon-pohon itupun bertanya;
Kapan ya ? kapan ya?
Haha pertanyaan lucu kita yang dibungkus dengan sedikit kedewasaan 
Akhirnya apa?
Akhirnya kita berbagi ilmu tentang kehidupan…
Hingga manisnya ukhuwah yang dibungkus dalam doa saudara..


Uhibbukum fillah… itulah kalimat indah yang tersela dalam diskusi singkat kita

untuk si Pohon Tangguh


Minggu, 01 September 2013

Teman Seperjuangan

Alhamdulillah.. dipertemukan dengan sahabat seperjuangan beberapa hari lalu walau hanya sekitar 20 menit. Udah lama banget kita nggak ketemu. Sekitar 6 bulan. Tapi entah kenapa berasa lamaaaa banget. Sampai-sampai doi bilang ‘udah lama banget yaaa kita nggak ketemu, udah berapa tahun yaa…’ [hahahaha padahal kalau diinget-inget kita ketemu di acara rohis SMA, 6 bulan lalu.]

Singkat cerita, kita satu sekolah dulu. Kita berdua dekeeetketket walaupun tidak pernah sekelas. Daaan  ‘Kita sama-sama pengen jadi dokter! FKUI!’.. alhamdulillah, sahabat saya ini langsung diterima FKUI tanpa tes tertulis dan tanpa biaya per semester, dan Alhamdulillah juga, Allah mempunyai cara lain untuk mengasah salah satu hambaNya yang lain dengan Psikologi Unpadnya :D

Malam setelah saya bertemu dengannya. Saya menemukan foto ini:


Tambahlah saya kangen dan pengen ketemu lagi.

Flashback dan flashback

Dulu belajar bareng dengan materi yang sama, sekarang menariknya bisa saling tukar ilmu dalam dua disiplin.
Dulu diskusiin suatu hal, sekarang menariknya diskusiin suatu hal dalam dua disiplin ilmu.
Dulu berpikir bahwa biologis dan psikologis adalah hal yang tidak berkaitan, sekarang menariknya kita paham bahwa kedua hal itu justru saling memengaruhi.

Kita sama-sama jadi dokter. Sama-sama bisa menangani hati kok. Bedanya yang satu menangani fisik, yang satu lagi menangani psikis. Hahaha #eh [semua ada tempatnya lah yaaaa. :b ]




Kalau beberapa teman seperjuangan digabungin. Beeeuh, jadi bayangin The Avengers. Masing-masing punya keahlian yang beda. Tapi justru perbedaan ada untuk melengkapi dan membentuk kekuatan yang dahsyat. Jadi nggak sabar bertemu anggota Avengers yang lain.  :D

Sabtu, 03 Agustus 2013

This is Special

Bismillah

Saya ingin menulis seputar anak-anak nih, karena memang saya suka anak-anak. :D

Tulisan ini hanya sebuah catatan dan nasihat pribadi agar saya tidak lupa pada ibrah selama saya bersama keponakan saya ini, karena pada dasarnya saya pun belum pernah merasakan memiliki seorang anak. Hehe.. tulisan ini pun tidak dikhususkan hanya untuk para ayah ibu saja, tapi om, tante, nenek, kakek, uwa, abang, kakak, teteh pun boleh. :D

Here we go…

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”—At Tahrim: 6
Sama dengan yang pernah saya tulis sebelumnya bahwa anak merupakan investasi terbesar, karena anak merupakan investasi dunia akhirat. Karena itu mendidiknya merupakan sebuah kewajiban untuk orang tua agar mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat serta terhindar dari siksa api neraka.

Seperti kalimat prolog diatas, tulisan ini terinspirasi dari keponakan saya, dia yang masih berumur 3 tahun kurang ini mampu menyerap apapun dari lingkungan sekitar tanpa adanya saringan untuk menyaring informasi yang datang.  Semua perkataan dan tingkah laku mampu dia tiru. Bahaya ‘kan kalau yang di tiru malah hal yang buruk? Dengan kemampuan menirunya yang baik bukankah akan lebih baik jika dimaksimalkan dengan memberinya hal-hal baik? Kita akan berbicara seputar anak-anak dan lingkungan keluarga. Tidak lebih. Karena khawatir jika tidak dibatasi pembicaraan mengenai pemaksimalan kemampuan anak dari dini maka tulisan ini berujung ke lembaga-lembaga pendidikan seperti PAUD atau playgroup *hehe.

Ya, mendidik anak tidak semudah ketika kita melihat kagum orang tua yang memiliki anak sholeh, cerdas dan kreatif. Tentu tidak semudah melihatnya. Karena mendidik anak erat kaitannya dengan mendidik diri sendiri. Ketika kita mendidik berarti kita harus mempunyai ilmu untuk diberikan; mempunyai kesabaran, kegigihan, dan kekonsistenan ketika memberikan; dan mempunyai keoptimisan untuk hasil dari apa yang diberikan. Dan jangan lupa tujuan pun menentukan. Tujuan sangatlah penting karena dapat membentuk akan seperti apa dia yang sedang kita didik ini.

Contohnya orang tua ingin menjadikan anaknya yang terdepan di dunia dan akhirat, maka sesuaikan kurikulum yang akan diberikan dengan tujuan itu dan metodenya sesuaikan dengan si anak. :D

Hal yang terpenting lagi ketika mendidik anak adalah memberikan contoh kongkrit. Keponakan saya lebih sering mengajak saya bersih-bersih (buang tisu kotor, lap kaca, pel lantai) setelah saya ajak dia bersih-bersih, dibanding ketika saya menyuruhnya untuk membuang sampah di tempat sampah.

Nah, teladan yang baik dari orangtua ataupun lingkungan akan membentuk kebiasaan pada dirinya yang dapat membentuk akhlak dan kepribadian yang baik juga. Anak akan lebih menyerap sesuatu yang kongkrit dibanding ketika dia diberikan nasihat dengan menggunakan kata-kata. Tapi mungkin akan lebih baik lagi jika menasihati dengan memberikan contoh. hehe

Ada seorang ibu yang sukses (definisi saya: memiliki anak sholeh, cerdas, dan kreatif) berbagi resep nih, silakan disimak..
  1. Orang tua harus menjadi teladan yang baik dengan ilmu. Baik ilmu tentang agama Islam, ilmu tentang perkembangan anak, maupun ilmu-ilmu lainnya. (psikologi masuk kok, hehe)
  2. Berkomunikasi dengan hangat, tidak dengan kata-kata kasar. Berusaha menjadi sahabat yang baik untuknya.
  3. Peka terhadap perkembangan dunia luar dan tidak gaptek. (maksudnya agar orang tua mengetahui perkembangan yang terjadi diluar dan bisa memahami dan menjelaskan dampak positif maupun negatifnya. Pertahanan yang lebih kuat adalah pemahaman dan wawasan anak tentang akibat baik dan buruknya yang akan dihadapi jika dia melakukan suatu tindakan tertentu, bukan overprotective atau memberikan anak jarak dari lingkungan luar)
  4. Anak adalah amanah yang diberikan Allah SWT, karena itu orang tua harus memohon pertolongan Allah untuk membimbing dan mendidiknya.
  5. (ini yang terpenting) menanamkan iman dan rasa takut kepada Allah sejak kecil.

“Dan hendaklah takut pada Allah SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”—An Nisa : 9
Nah, sekian tulisan kali ini. Selamat menjadi orang tua yang baik (ngomong ke diri sendiri juga). baik di dunia hingga mampu menjangkau akhirat dan SurgaNya.. aamiin



Jika teman saya menulis dalam blognya, tulisan adalah doa yang menyimpan harapan penulisnya, maka saya setuju. Doanya sederhana.

Semoga bermanfaat.
 :D

terinspirasi tidak hanya dari keponakan, tapi juga ibu sukses yang berbagi resep :D

Sabtu, 27 April 2013

Merindu


Rindu rasanya. Pada sahabat yang kini terpisah jaraknya. Kau tahu sahabat ? aku yakin kamu baik-baik saja. Ya. Terlihat dari tulisan-tulisanmu.

Kalau diingat-ingat, Kita dulu bagai benih.

Benih yang saling bertukar informasi,’Kalau ini nih..’
Benih yang saling menyemangati, ‘Ayo Fulan, kita harus…’
Benih yang juga berkompetisi, ‘Walaupun kita akan terpisah tapi kita harus ingat, diantara kita siapa yang duluan jadi….’
Benih yang juga saling mengingatkan,’Fulan, kita harus teguh dalam prinsip!’

Aku ingat sekali. Indah. Rindu. Dan banyak sekali perasaan yang tak terucap.

Sahabat, Benih yang dulu itu sekarang tumbuh. Tak kusadari kita tumbuh dalam kesunyian untuk saling berbagi.

Berusaha dan berlomba menjadi pohon tangguh yang mempunyai banyak buah manis.

Yaaa Berusaha dan berlomba menjadi insan yang penuh arti untuk berbagi. Tidak hanya kita. Tapi untuk semesta.

Kau disana menjadi pohon yang kau inginkan. Disini aku pun begitu. :D 


Senin, 18 Maret 2013

Energi...


“ Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari 1 bentuk energi ke bentuk energi yang lain. “

Sesuai dengan hukum kekekalan energi, kami mengambil sebuah inspirasi. Pada awalnya kebingungan ini muncul, sebagai suatu ujian hati… dan Allah mempertemukan kami untuk saling berbagi mencari solusi. Hingga kami putuskan, untuk mengubahnya, bukan menghilangkannya.

Untuk energi yang tak terlihat namun teraba. Untuk energi yang tak beraroma namun terasa.

Sehingga inilah yang kami katakan pada diri kami masing-masing: 'energi tidak bisa diciptakan [benar, hal itu terasa tanpa kami meminta] ataupun di musnahkan [ya, sulit], tapi dapat diubah ke bentuk yg lain [inilah yang bisa kami lakukan]' 

Dan hal ini sudah kami buktikan! 

Senin, 04 Maret 2013

Pour Ma Chere Amie, Stanijuanita Marantika :D


Aku punya sebuah cerita, read it :D
Saat itu bulan Ramadhan 1432 H. Ramadhan pertamaku menjadi seorang mahasiswi. Siang hari yang panas kuselusuri jalan pulang menuju kosan. Semakin mendekat tujuan aku melihat gadis tinggi berkemeja putih dan berkerudung. Jalannya biasa, sesekali dia menoleh kebelakang. Aku tak tahu dia melihat siapa, tapi kemudian dia melanjutkan kembali perjalanannya. ‘mungkin dia satu kos denganku, hihi’ pikirku. Benar saja, dia mengarah pada rumah bercat hijau tempat sementaraku bernaung. Sebelum masuk rumah, matanya menyelusuri rumah tingkat dua itu, entah untuk apa. Lalu dia memasuki rumah hijau itu dan mata kami bertemu. Ya, dia melihatku yang sedang memperhatikan dirinya.
Aku melanjutkan perjalananku, membuka pagar rumah itu, dan memasuki pintu rumahnya. Tidak beberapa lama, gadis itu menyapaku, mengulurkan tangan dan mengajakku untuk berkenalan.
‘Hai, mau kenalan, dong !’ sapanya padaku dengan wajah ceria, ‘Aku JUAN!’  

Semakin lama kami bersama, semakin dalam juga kami kenal. Banyak cerita yang mungkin tidak akan bisa dihitung. Banyak cerita yang mungkin tidak bisa diingat. Namun, kesenangan, keasyikan, kelebayan, kegaringan, dan ‘ke-an’ lainnya karena bertemu dengannyalah yang hanya bisa kukenang.
Itulah sepenggal cerita yang mendasari surat ini dibuat.



Hai saudariku.. sudah berapa tahun di dunia ini ?
20, ya 20. Oh, bahkan tepat 20 hari ini? hihi

Saudariku, aku tak ingin bersenang-senang hari ini, apalagi menggelar sebuah pesta untukmu. Apa yang bisa kurayakan? Padahal aku tahu, setiap detik dalam dirimu dan diriku adalah langkah untuk mendekat pada pertanggung jawaban. Dan hari ini, terlebih hari ini saudariku, hari ini adalah momentum untuk dirimu, sirine yang setiap tahun selalu berdering. Untuk mengingatkan, Untuk menegur. Pada hal-hal yang telah dilakukan selama 20 tahun kebelakang. Namun juga momentum untuk bersyukur. Pada kesempatan yang telah diberikanNya.

Ya, saudariku. Ini momentum untuk memuhasabahi diri. Untuk meningkatkan diri ini. Untuk mengetahui sejauh mana perbuatan kita merupakan manifestasi kecintaan kepada Allah.



Barakallah Fii umrik.. :D

Semoga berkahNya selalu menaungimu. UjianNya pasti menguatkanmu. Dan aku yakin, nikmatNya selalu hadir dalam bentuk syukur dan sabarmu.

Aku ingin MencintaiMu


Buka-buka file di laptop dan nemu lagu yang udah lama ini.. :')

Aku ingin MencintaiMu
Edcoustic

Tuhan Betapa aku malu
Atas semua yang Kau beri
Padahal diriku terlalu sering membuat-Mu kecewa
Entah mungkin karena ku terlena
Sementara engkau beri aku kesempatan berulang kali, agar aku kembali
Dalam fitrahku sebagai manusia
Untuk menghambakan-Mu
Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapan-Mu…

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya robbi

Entah mungkin karena ku terlena
Sementara engkau beri aku kesempatan berulang kali, agar aku kembali
Dalam fitrahku sebagai manusia
Untuk menghambakan-Mu
Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapan-Mu…

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi…