Sabtu, 27 April 2013

Merindu


Rindu rasanya. Pada sahabat yang kini terpisah jaraknya. Kau tahu sahabat ? aku yakin kamu baik-baik saja. Ya. Terlihat dari tulisan-tulisanmu.

Kalau diingat-ingat, Kita dulu bagai benih.

Benih yang saling bertukar informasi,’Kalau ini nih..’
Benih yang saling menyemangati, ‘Ayo Fulan, kita harus…’
Benih yang juga berkompetisi, ‘Walaupun kita akan terpisah tapi kita harus ingat, diantara kita siapa yang duluan jadi….’
Benih yang juga saling mengingatkan,’Fulan, kita harus teguh dalam prinsip!’

Aku ingat sekali. Indah. Rindu. Dan banyak sekali perasaan yang tak terucap.

Sahabat, Benih yang dulu itu sekarang tumbuh. Tak kusadari kita tumbuh dalam kesunyian untuk saling berbagi.

Berusaha dan berlomba menjadi pohon tangguh yang mempunyai banyak buah manis.

Yaaa Berusaha dan berlomba menjadi insan yang penuh arti untuk berbagi. Tidak hanya kita. Tapi untuk semesta.

Kau disana menjadi pohon yang kau inginkan. Disini aku pun begitu. :D 


Senin, 18 Maret 2013

Energi...


“ Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari 1 bentuk energi ke bentuk energi yang lain. “

Sesuai dengan hukum kekekalan energi, kami mengambil sebuah inspirasi. Pada awalnya kebingungan ini muncul, sebagai suatu ujian hati… dan Allah mempertemukan kami untuk saling berbagi mencari solusi. Hingga kami putuskan, untuk mengubahnya, bukan menghilangkannya.

Untuk energi yang tak terlihat namun teraba. Untuk energi yang tak beraroma namun terasa.

Sehingga inilah yang kami katakan pada diri kami masing-masing: 'energi tidak bisa diciptakan [benar, hal itu terasa tanpa kami meminta] ataupun di musnahkan [ya, sulit], tapi dapat diubah ke bentuk yg lain [inilah yang bisa kami lakukan]' 

Dan hal ini sudah kami buktikan! 

Senin, 04 Maret 2013

Pour Ma Chere Amie, Stanijuanita Marantika :D


Aku punya sebuah cerita, read it :D
Saat itu bulan Ramadhan 1432 H. Ramadhan pertamaku menjadi seorang mahasiswi. Siang hari yang panas kuselusuri jalan pulang menuju kosan. Semakin mendekat tujuan aku melihat gadis tinggi berkemeja putih dan berkerudung. Jalannya biasa, sesekali dia menoleh kebelakang. Aku tak tahu dia melihat siapa, tapi kemudian dia melanjutkan kembali perjalanannya. ‘mungkin dia satu kos denganku, hihi’ pikirku. Benar saja, dia mengarah pada rumah bercat hijau tempat sementaraku bernaung. Sebelum masuk rumah, matanya menyelusuri rumah tingkat dua itu, entah untuk apa. Lalu dia memasuki rumah hijau itu dan mata kami bertemu. Ya, dia melihatku yang sedang memperhatikan dirinya.
Aku melanjutkan perjalananku, membuka pagar rumah itu, dan memasuki pintu rumahnya. Tidak beberapa lama, gadis itu menyapaku, mengulurkan tangan dan mengajakku untuk berkenalan.
‘Hai, mau kenalan, dong !’ sapanya padaku dengan wajah ceria, ‘Aku JUAN!’  

Semakin lama kami bersama, semakin dalam juga kami kenal. Banyak cerita yang mungkin tidak akan bisa dihitung. Banyak cerita yang mungkin tidak bisa diingat. Namun, kesenangan, keasyikan, kelebayan, kegaringan, dan ‘ke-an’ lainnya karena bertemu dengannyalah yang hanya bisa kukenang.
Itulah sepenggal cerita yang mendasari surat ini dibuat.



Hai saudariku.. sudah berapa tahun di dunia ini ?
20, ya 20. Oh, bahkan tepat 20 hari ini? hihi

Saudariku, aku tak ingin bersenang-senang hari ini, apalagi menggelar sebuah pesta untukmu. Apa yang bisa kurayakan? Padahal aku tahu, setiap detik dalam dirimu dan diriku adalah langkah untuk mendekat pada pertanggung jawaban. Dan hari ini, terlebih hari ini saudariku, hari ini adalah momentum untuk dirimu, sirine yang setiap tahun selalu berdering. Untuk mengingatkan, Untuk menegur. Pada hal-hal yang telah dilakukan selama 20 tahun kebelakang. Namun juga momentum untuk bersyukur. Pada kesempatan yang telah diberikanNya.

Ya, saudariku. Ini momentum untuk memuhasabahi diri. Untuk meningkatkan diri ini. Untuk mengetahui sejauh mana perbuatan kita merupakan manifestasi kecintaan kepada Allah.



Barakallah Fii umrik.. :D

Semoga berkahNya selalu menaungimu. UjianNya pasti menguatkanmu. Dan aku yakin, nikmatNya selalu hadir dalam bentuk syukur dan sabarmu.

Aku ingin MencintaiMu


Buka-buka file di laptop dan nemu lagu yang udah lama ini.. :')

Aku ingin MencintaiMu
Edcoustic

Tuhan Betapa aku malu
Atas semua yang Kau beri
Padahal diriku terlalu sering membuat-Mu kecewa
Entah mungkin karena ku terlena
Sementara engkau beri aku kesempatan berulang kali, agar aku kembali
Dalam fitrahku sebagai manusia
Untuk menghambakan-Mu
Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapan-Mu…

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya robbi

Entah mungkin karena ku terlena
Sementara engkau beri aku kesempatan berulang kali, agar aku kembali
Dalam fitrahku sebagai manusia
Untuk menghambakan-Mu
Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapan-Mu…

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta
Dalam doa
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi…

Senin, 25 Februari 2013

Untuk Saudariku...


Untuk Saudariku yang sedih hatinya, karena orang yang paling disayanginya sedang diuji…

Tenanglah, aku pernah diposisimu. Khawatir? Ya. Takut? Ya. Sedih? Ya. Sepi? Ya.
Tapi kamu Belum terlambat. Karena yang beliau butuhkan hanya Matahari! Matahari yang selalu bersemangat menyinarinya

Ya. Bersemangat dan menjadi sumber semangat dihati. Hingga Ia tak khawatir, cemas, dan sedih. Dan yang terpenting, tak memikirkan apa yang sedang memberatkan hatinya saat ini.

Allah tahu kamu kuat, Saudariku.. dan Allah tahu cara membuatmu lebih kuat dari saat ini..

"Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. ..." [2:286]

Minggu, 24 Februari 2013

Transaksi DenganNya

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan rasulNya dan berjihad di jalan Allah  dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.” [61: 10-13]

Ini tentang transaksi jual beli denganNya.. jika kamu merasa telah mengorbankan banyak hal di jalan Allah, untuk menolong agama Allah, kamu tidak akan pernah merugi. Karena Dia, ya, Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan Allah akan memberi kekuatan pada orang-orang yang beriman, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang [61:14].

Percayalah, karena Janji Allah itu benar :D semoga selalu diteguhkan dijalanNya!

Terinspirasi dari QS. Ashshaff 10-14 dan untuk teman disana yang sedang bersedih hatinya



Sabtu, 23 Februari 2013

Dengan Pensil..


Jadi ingat sama kalimat ini ‘Tulislah mimpimu dengan pensil dan serahkan penghapusnya pada Allah’.

Ketika mimpi dan harapan itu di acc olehNya, maka senang rasanya. Puji dan Syukur mendera jiwa. Namun, bagaimana jika ternyata apa yang telah kau ’tulis dengan pensil’ itu dihapus olehNya. Sedih? Ya. Dan  disitulah kita belajar untuk mencari hikmah apa yang tersembunyi dibalik garisNya. Karena Dia MahaMengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Seperti halnya kita menggambar dengan sebuah pensil, ketika kita menghapus salah satu bagian gambar kita, maka ketika itu kita bertujuan untuk memperbaikinya. Untuk apa? Tentu untuk membuat gambar yang kita buat lebih bagus. Begitu juga dengan garisNya. Untuk membuat kita lebih baik dengan menambahkan yang terbaik untuk kita. Karena Dia lah yang menggambar kita, yang karenanya Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.

Yuk, cari hikmah disetiap langkah. Karena sungguh, jika kita telaah nikmatNya tak pernah bisa terdusta.